// s t a r r y t h e t i c
ENTRY ABOUT RANGKUMAN STUFFS INSTAGRAM TWITTER NEWER OLDER +FOLLOW DASH

MABIT!
foto kelasku yang berubah jadi kamar kelas 6A putri


Sabtu sampai Minggu kemarin (12-13 Maret 2016), aku bersama teman-teman sekelasku mengikuti Mabit. Aku sampai di sekolah tepat saat adzan Ashar berkumandang. Usai shalat, aku ke kamar alias kelas untuk menaruh tas. Kelas 6A dan 6B putri tidur di kelasnya masing-masing. Sedangkan yang putra tidur di kelas depan, kelas 2A & 2B kalau enggak salah.
Kami berkumpul di Aula. Materi pertama akan disampaikan oleh Ustadz Risza. Sebelum materi, ini yang paling ditunggu-tunggu! Ustadz Risza akan menguak rahasia mengapa Najwa dan Syahrul selalu kompak.
"EEAAA ...!!!" semua pandangan mata tertuju pada Najwa dan Syahrul.
Tahu kekompakkan mereka? Dari kelas 1 sampai sekarang, mereka selalu sekelas. Kalau guru bertanya, mereka menjawabnya dengan kompak. Jika tempat duduknya bebas, mereka selalu duduk berjejer. Ada lagi! Tempat minum mereka sama! Sampai-sampai, pernah ada yang menukar tempat minum mereka berdua :v.
Video diputar. Tiba-tiba, Aula penuh dengan tawa. Itu video slideshow foto-foto sewaktu masih anak ingusan! Aku melihat salah satu foto .... Fotoku dan beberapa teman-temanku sewaktu membaca surat An-Nadzi'at pada acara akhirussanah. Masya Allah, itu, kan fotoku saat kelas 1! Rasanya baru kemarin aku tampil membacakan surat An-Nadzi'at. Tapi ternyata, itu sudah hampir 6 tahun yang lalu. Betapa cepat waktu berjalan.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu terungkap. Terekam video Syahrul & Najwa waktu lagi outbond. Ternyata mereka emang udah kebawa kompak dari dulu XD. Sebelum video selesai, ada foto Syahrul dengan tulisan 'Jejak si Gundul'. Bagian ini sukses membuat aula menjadi heboh.
--------------------------------------------
Awal mulanya panggilan itu berasal, ketika pelajaran PAI, yang diajar Ustadz Risza sendiri. Syahrul diperintah membacakan soal dan menjawabnya. Mendengar suaranya (Syahrul) yang sudah mulai memberat, Ustadz Risza teringat sesuatu. Entah Ustadz Risza bilang apa saat itu, intinya beliau bilang suara Syahrul mirip 'Jejak si Gundul'. Ia diperintah membaca ulang oleh Ustadz Risza untuk memastikan. Seketika, kelas penuh dengan tawa.
--------------------------------------------
Beberapa menit sebelum Maghrib, materi pertama tentang 'Adab Pergaulan Islami' selesai. Bersiap shalat Maghrib, shalat Maghrib, lalu makan di kamar masing-masing. Aku melihat teman-teman masuk dengan membawa segelas teh hangat di tangannya. Aku ikut mengambil teh di depan kamar alias kelas. Usai makan, aku mengurungkan niat untuk membuang dus kotak makan tersebut. Karena, terdengar suara jendela diketuk (harusnya, kan, pintu!).
"Hey!"
Mendengar suara itu, seisi kamar menjerit. Itu suaranya Jejak si Gundul! Seisi kamar buru-buru mengenakan kembali jilbabnya. Aku? Santai. Aku enggak lepas jilbab. Meski jendela sudah ditutup menggunakan koran, tapi pintunya enggak bisa dikunci dari dalam. Aku takut kalau ada laki-laki yang masuk.
"Rul, mbok kowe ora sah ngono, to!" protes seseorang.
"Ho'o!" sambut yang lain.
"Oh, ternyata cah lanang ki podo nge-teh," ujar Najwa setelah dari luar.
Kirain apa. Ternyata yang laki-laki cuma pada nge-teh XD. Tak lama, adzan Isya berkumandang. Selesai shalat, semua berkumpul di aula, termasuk para orang tua yang telah selesai melaksanakan POMG.
"Jauza', kayaknya kita bakal nangis, deh!" bisik Syaffa setelah melihat layar. Ada beberapa file di layar tersebut, dan ada satu yang mencurigakan. Entah, aku enggak ngerti maksud file berformat Powerpoint itu. Intinya ada kata 'anak' gitu! Ah, pasti bakal dibuat nangis!
"Ho'o! Duh, jangan sampai nangis! Malu kalau nangis di depan orang banyak gini."
Tebakanku dan Syaffa di atas awalnya salah. Sekolah memanggil seorang Psikolog. Beliau mengajarkan belajar COKELAT kepada kami. Seru!
Pada akhir acara, tebakanku dan Syaffa benar. Didengarkan suara orang membaca puisi tentang orang tua. Ditambah dilantunkannya lagu Album Biru. Aku dan Syaffa tak bisa menahan tangis. Hikss ....
---***---
Sekitar jam 10 waktunya bersiap-siap untuk tidur. Aku menyiapkannya dengan gosok gigi, cuci muka & kaki, lalu menyiapkan karung tidur. Sebenarnya karung tidur itu untuk kemah, tapi, ya, enggak ada salahnya dipakai buat Mabit juga. 
Kemudian datanglah Ustadzah Vievie. Ustadzah Vievie tidur di tengah. Katanya, enggak ada tempat untuk tidur lagi, udah dipakai Syahrul. Dia enggak seperti biasanya (pulang ke rumahnya) gara-gara keram. Salah sendiri kebanyakan baca puisi, jadi denger puisi dikit langsung dihayati, dan akhirnya gampang baper.
---***---
Tengah malam .... Cahaya putih datang dua kali. Ditambah cahaya merah satu kali. Hiii ... seram! Aku membuka mata, ingin tahu cahaya apa itu. Ternyata, ada yang lagi wefie :v. Jam 12 gini malah pada wefie! Enggak takut ada penampakan apa?
Aku ingin tidur lagi. Tunggu ... mana ada, sih, teman yang enggak jahil? Jangan-jangan, nanti yang lagi tidur difoto semua! Aku begadang sebentar, karena rasa kantuk ini tidak bisa dilawan, bagaimana lagi? TIDUR solusinya. Zzz ....---
Jam menunjukkan pukul 03.00 (kira-kira sekitar jam segitu, deh! XD). Semua dibangunkan untuk segera melaksanakan shalat Tahajud. Duh, rasanya ngantuk banget!
Selesai melaksanakan shalat Tahajud, Ustadzah Lis (guru IPA + wali kelas) menunjukkan Venus yang berkelip di langit. Keren! Lantas kami ke kamar masing-masing untuk mengambil Al-Qur'an dan bersiap shalat Subuh.
---***---
Depok's Beach, i'm coming!
Sayangnya, enggak boleh main air di sana. Tadi malam ombaknya tinggi banget katanya. Aku dan teman-temanku segera memilih bis. Biar dapat yang bagus gituuu .... Eh, udah direbut sama laki-laki -_-. Aku duduk dekat Syaffa. Selama perjalanan aku dan dia ngobrooll ... terus!
"Sudah sampai!"
Kami berjalan sebentar dari parkiran menuju pantai. Pantainya berpasir hitam dan agak becek. Mungkin bekas tadi malam. Ada beberapa yang bermain ATV, ada yang mencuci kaki dengan air pantai (niatnya main, bukan cuci kaki :v), ada yang selfie. Aku, Syaffa, dan Lia memutuskan untuk jajan saja. Matahari bersinar terik, sehingga kami tak lupa membeli sebotol minuman. Aku dan Syaffa membeli Teh Pucuk, dan Lia membeli Fresh Tea. Segar ....
Lalu aku dan Syaffa hanya duduk melihat pemandangan pantai, sedangkan Lia ikut mencuci kaki eh main air bersama teman-teman. Tak lama, waktunya makan siang. Ada dua jenis minuman yang tersedia di meja, teh dan jeruk. Karena sudah membeli teh, aku memilih jeruk kemudian mengambil es. Selesai makan, waktunya perjalanan pulang. Ah ... dinanti lama, merasakannya sebentar. Tak terasa, mabit akan segera berakhir ....

Labels:


Written by me at 3/24/2016 | 4 Star{s}
Blogger Resti Adillika Naswa said...

seru

 
Blogger Nadya_NFA1507 said...

kak, aku jg pernah loh mabit di sekolah ku...

 
Blogger Shining said...

aku juga mabit, kmu pengurus rohis juga ya?

 
Blogger ASTraveller said...

hi follow u :D

 

Post a Comment